Anggota Komisi VII Ingatkan 3 Hal Ini soal Peleburan LBM Eijkman ke BRIN

Oleh kawalmukhtarudin

Tim @mukhtarudin.center yang secara resmi mengelola media sosial Drs. Mukhtarudin.

Iconomics – Anggota Komisi VII DPR Mukhtarudin secara prinsip tidak mempermasalahkan peleburan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hanya ada 3 catatan yang setidaknya perlu diperhatikan peleburan Eijkman ke BRIN.

Menurut Mukhtarudin, sumber daya manusia (SDM) yang sebelumnya dimiliki Eijkman harus diakomodir untuk masuk ke dalam BRIN. Dengan demikian, SDM yang berkualitas dan memiliki kemampuan riset serta penelitian yang mumpuni dapat ikut melebur ke dalam BRIN.

“Kalau pun misalnya ada honorernya yang harus PNS, kan ada proseslah. Itu kan bisa diatur sedemikian rupa prosesnya. Jadi jangan hanya status honorer kemudian ada peneliti yang bagus, punya ilmu yang baik, tapi statusnya honorer, lalu tidak dipakai, ya jangan juga. Dicari solusinya. Karena membentuk SDM itu tidak gampang, tidak mudah, perlu biaya, dan perlu waktu yang panjang untuk membentuk SDM yang berkualitas,” kata Mukhtarudin saat dihubungi, Senin (3/1).

Selanjutnya, kata Mukhtarudin, proyek dan penelitian yang sedang dilakukan Eijkman dapat dilanjutkan kembali di BRIN. Dengan kata lain, hanya lembaganya saja yang berubah, akan tetapi SDM dan kegiatan yang masih berlangsung di Eijkman dapat dilanjutkan kembali.

“Jadi jangan sampai terputus, jangan dimulai dari nol lagi, jadi BRIN harus melanjutkan, jadi hanya berubah cangkangnya, tapi isinya tetap harus dilanjutkan. Pendekatannya objektif ilmiah. BRIN ini kan lembaga ilmiah, karena itu pendekatannya harus ilmiah,” ujar Mukhtarudin.

Karena itu, kata Mukhtarudin, setiap langkah yang dilakukan BRIN harus didasari dengan pendekatan ilmiah tanpa menggunakan pendekatan yang bernuansa politis. Dengan demikian, secara kebijakan dan keputusan yang dibuat BRIN betul-betul dilakukan dengan objektif yang mempertimbangkan sisi pengembangan riset dan inovasi ke depan.

“Ada 3, satu SDM-nya, yang kedua masalah proyek-proyek yang sedang berjalan itu tetap dilanjutkan dengan dievaluasi, yang ketiga BRIN ini harus pendekatan ilmiah, bukan pendekatan politis, baik rekrutmennya, pendekatannya harus ilmiah dan objektif,” tutur Mukhtarudin

Sebelumnya, LBM Eijkman melalui laman media sosial Instagram @eijkmaninstitute secara resmi menyatakan bahwa kegiatan mereka akan diambil alih Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN. dalam hal ini termasuk juga kegiatan yang dilakukan Tim Waspada Covid-19 Lembaga Eijkman (Wascove) untuk menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Tim Wascove ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas segala dukungan dalam setahun lebih Wascove berkarya. Kepada seluruh Eijkmaners, donatur, kolaborator, dan vendor yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, apresiasi tertinggi kepada rekan-rekan sekalian atas dukungannya. Kiranya segala kesalahan yang telah terjadi boleh dimaafkan dan lembaran baru boleh dimulai dimanapun kita berada,” tulis LBM Eijkman pada Minggu (2/1/) kemarin.

Share on: