Premium dan Pertalite akan Dihapus, Mukhtarudin: Pemerintah Harus Bijak

Oleh kawalmukhtarudin

Tim @mukhtarudin.center yang secara resmi mengelola media sosial Drs. Mukhtarudin.

PANGKALAN BUN – Saat ini bahan bakar minyak menjadi kebutuhan dasar yang menopang berbagai roda kehidupan kegiatan ekonomi, dengan varian solar, premium, pertalite, hingga pertamax untuk transportasi.

Pertamina sebagai BUMN penyedia bahan bakar untuk kendaraan pun menawarkan berbagai jenis bahan bakar. Di antaranya terdapat premium, pertalite, serta pertamax.

Pemerintah berencana menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertalite pada tahun 2022. Kebijakan tersebut ditunjukkan dalam rangka penggunaan BBM RON diatas 90 yaitu pertamax dan pertamax turbo, sebagai bahan bakar minyak yang ramah lingkungan.

Sebab, pemakaiannya dianggap kurang ramah lingkungan dibanding pertalite dan pertamax. Hal itu dikarenakan premium hanya memiliki RON 88.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin mengaku meski kebijakan maksimalisasi penggunaan pertamax dan pertamax turbo ini dalam rangka pemerintah mengurangi emisi CO2 menuju green energy. Namun, menurut Mukhtarudin, target pengurangan emisi karbon tersebut harus dipikirkan secara komprehensif.

“Di satu sisi memang kita kedepanya harus mengurangi emisi untuk selamatkan lingkungan, tapi di sisi lain kita juga harus arif dan bijaksana melihatnya, terutama terkait dengan daya beli masyarakat,” ucap Mukhtarudin, Rabu (29/12/2021).

Politisi Golkar Dapil Kalimantan Tengah ini mengatakan program tersebut harus terintegrasi dengan aspek lain yang memengaruhinya seperti tingkat kesejahteraan masyarakat.

Baca juga : Perlu Pertimbangan Matang Hapus Premium dan Pertalite

“Persoalannya sekarang apakah timing tepat, momentumnya tepat, tahun 2022 kita sudah mengurangi dan menyetop penggunaan premium dan pertalite, mengingat bahwa kondisi masyarakat kita masih terbebani dengan Covid 19 yang belum berakhir dan juga belum begitu pulih perekonomiannya,” ungkap Mukhtarudin.

Selain itu, Mukhtarudin mengatakan dari segi konsumsi masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertalite hingga saat ini juga masih tinggi.

Artinya, lanjut Mukhtarudin, masyarakat masih banyak menggunakan BBM jenis premium dan pertalite, terutama masyarakat menengah ke bawah, dibandingkan bakar bakar minyak jenis pertamax dan pertamax turbo yang ramah lingkungan.

“Terkecuali memang ada tren dari tahun ke tahun pengguna premium dan pertalite itu menurun, artinya masyarakat sudah beralih ke BBM RON diatas 90 yang sudah ramah lingkungan. Tapi sekarang kan BBM premium dan pertalite masih dibutuhkan,” imbuh Mukhtarudin.

Oleh karena itu, Mukhtarudin mendorong pemerintah untuk bijak dalam rangka menhgapus bahan bakar minyak jenis premium dan pertalite tersebut.

“Saya kira pemerintah harus bijak menyikapinya. Satu sisi kita ingin mengurangi emisi. Tapi di sisi lain, kita juga harus memikirkan persoalan yang dihadapi atau akan membebani rakyat,” tandas Mukhtarudin.

Mukhtarudin bilang Komisi VII DPR RI dalam hal ini tentu akan memberikan masukan kepada pemerintan (kementrian ESDM) terkait kebijakan penghapusan BBM jenis premium dan pertalite ini.

“Kan Perpres juga masih dalam proses. Mudah mudahan Presiden bisa melihat ini secara komprehensif, tidak saja hanya dilihat dari target pengurangan emisi karbon, tapi juga dampaknya kepada masyarakat harus juga jadi pertimbangan, serta mempertimbangkan timing yang tepat untuk menerapkan kebijakan tersebut,” pungkas Mukhtarudin.

Sumber : intimnews.com

Share on: