Krakatau Steel Cetak Laba tapi Terancam Bangkrut, Ini Catatan Komisi VII DPR

Oleh kawalmukhtarudin

Tim @mukhtarudin.center yang secara resmi mengelola media sosial Drs. Mukhtarudin.

Sebagai satu-satunya perusahaan BUMN di bidang industri baja, PT Krakatau Steel (Persero) dinilai belum sepenuhnya fokus mengembangkan bisnis inti.

Padahal selain produksi baja, PT KS juga memiliki puluhan entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama.

Menurut anggota DPR RI Komisi VII, Mukhtarudin, tujuan awal pemerintah mendirikan PT KS untuk mendukung kemandirian baja dalam negeri dengan menyediakan baja sebagai bahan baku oleh sektor hilirnya.

“Sementara pada kondisi saat ini, PT KS cenderung berkeinginan menguasai pasar dalam negeri dengan mengekspansi bisnisnya industri hilir dan sektor perdagangan, sehingga tidak terfokus pada pengembangan sektor hulu baja,” kritik Mukhtarudin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/12).

PT KS dipandang gagal menciptakan kemandirian baja nasional untuk mendukung pengembangan industri besi dan baja sebagaimana anamat pemerintah saat mendirikannya.

Mukhtarudin memaparkan, PT KS hanya berfokus pada pengembangan industri besi dan baja untuk keperluan infrastruktur yang secara nilai tambahnya sangat kecil.

Sementara, pasar baja dalam negeri yang lebih advance seperti otomotif, perkapalan, alat berat, permesinan, elektronik, dan industri sejenisnya yang memiliki nilai tambah tinggi tidak dikembangkan.

Mukhtarudin melanjutkan, kegagalan lain PT KS yakni dalam melakukan investasi, pengembangan blast furnace yang telah menelan investasi sebesar Rp 8,5 triliun pada tahun 2009.

First blow in (produksi pertama) dilakukan pada pada 11 Juli 2019, namun 6 bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 14 Desember 2019 dilakukan shutdown (penghentian proses produksi).

Kegagalan lain terlihat pada perusahaan joint venture antara PT KS dan PT Antam (Persero), Tbk, yakni PT Meratus Jaya Iron & Steel (MJIS) yang didirikan 9 Juni 2008.

“Perusahaan dengan investasi sekitar Rp 2 triliun sudah berhenti beroperasi sejak tahun 2015. Kegagalan investasi tersebut menjadi beban keuangan bagi PT KS,” sambungnya.

Berdasarkan laporan keuangan PT KS yang terdaftar di BEI dengan emiten berkode KRAS, dibukukan laba bersih senilai 59,72 juta dolar AS atau setara Rp 853 miliar per akhir kuartal III 2021.

Namun bagi Mukhtarudin, laporan tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut karena rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio) PT KS tercatat sebesar 789,21 persen, sementara perusahaan yang sehat harus memiliki DER kurang dari 100 persen.

“Dengan DER sebesar 789,21 persen tersebut, saat ini PT KS terancam mengalami kebangkrutan,” tandasnya.

Share on: