Dua Kegagalan yang Bikin Krakatau Steel Terancam Bangkrut

Oleh kawalmukhtarudin

Tim @mukhtarudin.center yang secara resmi mengelola media sosial Drs. Mukhtarudin.

Menteri BUMN, Erick Thohir beberapa waktu lalu mengungkap PT Krakatau Steel Tbk (KS) terancam bangkrut dalam waktu dekat ini. Itu bisa terjadi jika sejumlah langkah-langkah restrukturisasi gagal dilakukan.
Anggota Komisi VII DPR Bidang Energi dan Industri, Mukhtarudin mengungkap ada dua kegagalan yang memang dilakukan KS dalam berinvestasi.

Pertama, pengembangan Blast furnace yang telah menelan investasi sebesar Rp 8,5 triliun pada tahun 2009.

“First Blow In (produksi pertama) dilakukan pada pada 11 Juli 2019, namun 6 bulan kemudian tepatnya pada tanggal 14 Desember 2019 dilakukan shutdown (penghentian proses produksi),” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (8/12/2021).

Kedua, PT Meratus Jaya Iron & Steel (MJIS) berdiri pada tanggal 9 Juni 2008 yang merupakan perusahaan joint venture antara PT. KS dan PT Antam (Persero), Tbk dengan investasi sekitar Rp 2 triliun yang sejak tahun 2015 berhenti beroperasi.

“Kegagalan investasi tersebut menjadi beban keuangan bagi PT. KS,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya kegagalan KS juga berawal di mana perusahaan dinilai gagal dalam menjalankan amanat pemerintah.

“Tujuan awal Pemerintah mendirikan PT. KS adalah untuk mendukung kemandirian baja di dalam negeri dengan menyediakan baja yang akan digunakan sebagai bahan baku oleh sektor hilirnya,” ungkapnya.

Sementara, menurutnya pada kondisi saat ini PT. KS dinilai tidak fokus karena cenderung berkeinginan menguasai pasar dalam negeri dengan mengekspansi bisnisnya industri industri hilir dan sektor perdagangan.

“PT. KS dipandang gagal dalam menjaga amanat yang dititipkan Pemerintah pada saat pendiriannya,karena PT. KS hanya berfokus pada pengembangan industri besi dan baja untuk keperluan infrastruktur yang secara nilai tambahnya sangat kecil,” tuturnya.

“Sementara pasar dalam negeri untuk produk baja yang lebih advance seperti otomotif, perkapalan, alat berat, permesinan, elektronika dan industri sejenisnya yang memiliki nilai tambah tinggi tidak dikembangkan,” tambahnya.

Mukhtarudin juga mengkritisi laporan keuangan KS. Berdasarkan laporan keuangan PT. KS yang telah terdaftar di BEI, dibukukan laba bersih senilai US$ 59,72 juta atau setara Rp 853 miliar per akhir kuartal III 2021.

“Namun laporan tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut karena Debt to Equity Ratio (rasio utang terhadap modal) PT. KS tercatat sebesar 789,21%, sementara perusahaan yang sehat harus memiliki DER kurang dari 100%. Dengan DER sebesar 789,21% tersebut, saat ini PT. KS terancam mengalami kebangkrutan,” tutupnya.

Kemudian, Mukhtarudin mengungkap pertumbuhan industri baja dasar dalam negeri berdasarkan berita BPS tanggal 5 agustus 2021 tumbuh sebesar 18,03% dan industri barang dari logam, computer, barang elektronika, optic, dan peralatan listrik naik sebesar 6,73% dimana rata-rata pertumbuhan industri pengolahan hanya sebesar 6,58%.

“Artinya bahwa perkembangan industri besi dan baja nasional disaat terpaan pandemic Covid-19 terus tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Ia menilai ada kekurangan kapasitas dalam rantai pasok besi dan baja nasional, dengan gambaran sebagai berikut, pasokan billet dalam negeri masih kurang 3,21 juta ton, pasokan slab dalam negeri masih kurang 2,49 juta ton;

Lalu, pasokan Hot Rolled Coil (HRC) dalam negeri masih kurang 1,92 juta ton, pasokan Cold Rolled Coil (CRC) dalam negeri masih kurang 2,66 juta ton, dan pasokan baja lapis (coated steel) dalam negeri masih kurang 1,27 juta ton.

“Kekurangan tersebut hanya dihitung dari kebutuhan baja karbon yang utamanya digunakan untuk sektor infrastruktur dan konstruksi,” ucapnya.

Kebutuhan baja paduan (alloy) yang digunakan untuk industri lanjutan bernilai tambah tinggi seperti otomotif, perkapalan, alat berat, permesinan, elektronika dan industri sejenisnya tidak diproduksi dalam negeri.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa PT. KS sebagai BUMN yang seharusnya memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan bahan baku besi baja dalam negeri, saat ini belum mampu memasok seluruh kebutuhan tersebut.

“Seharusnya PT. KS dapat lebih fokus dalam mengembangkan sektor hulu baja dan tidak melakukan ekspansi ke hilir karena seharusnya industri hilir tersebut merupakan pasar bagi PT. KS,” pungkasnya.

Baca artikel detikfinance, “Dua Kegagalan yang Bikin Krakatau Steel Terancam Bangkrut” selengkapnya¬†https://finance.detik.com/industri/d-5846797/dua-kegagalan-yang-bikin-krakatau-steel-terancam-bangkrut.

Share on: