Anggota Komisi VII Apresiasi Kinerja PMI yang Tertinggi Sepanjang Sejarah

Oleh kawalmukhtarudin

Tim @mukhtarudin.center yang secara resmi mengelola media sosial Drs. Mukhtarudin.

Iconomics – Kinerja Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mengalami peningkatan sebesar 57,2 pada Oktober 2021 mendapat apresiasi. Apalagi perbaikan sektor manufaktur ini tidadak terlepas dari kebijakan pemerintah yang melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Tentu kita apresiasi ya. Apalagi PPKM dionggarkan di seluruh daerah,” kata anggota Komisi VII DPR Mukhtarudin dalam keterangannya, Senin (1/11).

Menurut Mukhtarudin, kenaikan PMI tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 varian Delta. Buktinya kasus harian Covid-19 semakin menurun di Indonesia yang disebabkan adanya pembatasan mobilitas penduduk di masa pandemi Covid-19.

“Jadi, saya kira kinerja PMI yang ekspansif 57,2 terbesar dalam sejarah dan membuktikan bahwa industri manufaktur saat ini bergerak menguat,” kata Mukhtarudin.

Sebagai informasi, PMI manufaktur Indonesia pada Oktober lalu merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah manufaktur Indonesia. Angka tersebut naik jika dibandingkan dengan PMI manufaktur Indonesia pada September 2021 yang hanya sebesar 52,2 dan Agustus 2021 yang berada di level 43,7.

Menanggapi soal itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kondisi tersebut dapat dipertahankan mengingat saat ini aktivitas perusahaan industri sudah kembali memacu produktivitasnya. “Hal ini juga diperkuat dengan kondisi kesehatan masyarakat yang makin kondusif,” kata Agus.

Menurut Agus, tingginya performa PMI manufaktur Indonesia tidak terlepas dari hasil sinergi yang dilakukan antara pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan yang berkaitan dengan upaya pemulihan ekonomi nasional.

“Kebijakan yang ditempuh dalam pengembangan industri di masa pandemi ini sudah berada di jalur yang benar, misalnya pemberian insentif fiskal dan nonfiskal yang dapat meningkatkan permintaan dan mengembalikan utilisasi,” ujar Agus.

Sumber : Iconomics

Share on: