Optimalisasi Agroindustri dalam mewujudkan Masyarakat Pertanian yang Sejahtera

Oleh kawalmukhtarudin

Tim @mukhtarudin.center yang secara resmi mengelola media sosial Drs. Mukhtarudin.

MUKHTARUDIN.COM – Hingga saat ini, Indonesia masih dikenal sebagai negara agraris yang kaya dengan sumber daya, dimana sektor pertanian masih sebagai mata pencaharian utama dari penduduknya.  Apabila kita berbicara mengenai  sektor pertanian di Indonesia,  ada  beberapa pertanyaan yang akan selalu muncul di benak kita.  “ Apakah pertanian di Indonesia sudah maju? Apakah petani Indonesia sudah sejahtera? Bagaimana sebenarnya kondisi sektor pertanian kita dan apa upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai masyarakat Pertanian yang sejahtera?  Pertanyaan seperti ini harus segera dijawab dan diatasi, apalagi  dengan semakin besarnya tantangan dan kerasnya persaingan bebas dunia dalam menuju masyarakat industri yang semakin maju ke depannya.
Dalam tulisan ini,  Penulis sengaja mengambil contoh gambaran kondisi pertanian di Daerah Propinsi Kalimantan Tengah.  Daerah Propinsi Kalimantan Tengah terletak di Pulau Kalimantan, salah satu pulau  terbesar di Indonesia,  dengan luas 157,983 km2,  80 persen wilayahnya masih didominasi dengan hutan, dan   56 persen angkatan kerja penduduknya ditampung di sektor pertanian.   Saat ini, 25 persen hutan primer yang ada didominasi oleh perkebunan, khususnya  kelapa sawit yang mencapai lebih dari 2 juta ha, dan perkebunan karet  serta rotan rakyat yang masih tersebar hampir di seluruh daerah.    Pada tahun 2018, Indonesia  menjadi pengekspor minyak sawit besar dunia dengan luas perkebunan lebih dari 10 juta ha dan setidaknya 3,5 juta rumah tangga bekerja di sektor sawit dan lebih 17 juta menggantungkan hidup pada industri dan perkebunan sawit.  Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2018  setidaknya menyumbang produksi sawit 4,525 juta ton per tahun.  Dilihat dari luas wilayah Kalimantan Tengah, tentunya potensi untuk sektor  pertanian atau perkebunan yang dapat dikelola dan dimanfaatkan sangatlah besar.  
Namun permasalahannya,  masih banyak kendala yang sering muncul dalam pembangunan pertanian atau  perkebunan, antara lain masalah aturan atau izin investasi,  akses lahan, tata kelola pertanian,  produktivitas, biaya operasional, harga jual dan pemasaran produk, hingga masalah permodalan dan lingkungan hidup.   Sebagai contoh,  hingga tahun 2018  masih terdapat  900.000 ha lahan perkebunan sawit  di wilayah Kalimantan Tengah yang bermasalah karena menyalahi RTRW Pusat. Banyak izin konsensi perkebunan sawit yang terkena, yang apabila tidak segera dituntaskan  dapat berbahaya bagi produksi minyak sawit yang bakal menjadi stagnan.   Belum lagi  masalah lain, yaitu masih banyaknya pelanggaran terhadap aturan pembukaan plasma kebun bagi masyarakat di sekitar daerahnya, dan juga masalah keadilan ekonomi bagi petani kecil yang seringkali harus kalah bersaing  dengan dominasi para pelaku usaha besar, yang tentunya semua permasalahan ini dapat berdampak pada kesejahteraan  masyarakat petani kecil yang bergantung hidup hanya pada satu sektor pertanian saja. Dari data BPS sejak 2017 NTP (Nilai Tukar Petani) di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah kurang memuaskan,  sebagai gambaran NTP stagnan berada dibawah nilai 100 yang artinya petani merugi. Yang paling merasakan adalah petani perkebunan rakyat (kelapa, cengkeh dan kopi)  NTP selalu di angka 90, dan untuk petani tanaman pangan dan hortikultura NTP di angka 95. Sebaran gambaran kondisi petani  yang kurang memuaskan  ini lebih dari 70 persen berada di pedesaan.
Bagaimana cara mengatasi kondisi tersebut? Salah satu upaya yang untuk dapat dijadikan pilihan adalah dengan mengembangkan Agroindustri.  Agroindustri memiliki potensi sebagai sarana untuk mengatasi permasalahan  pembangunan pertanian,  karena  Agrobisnis memiliki spektrum kegiatan dan pasar yang sangat luas.  Dan yang lebih penting lagi Agroindustri adalah suatu sektor yang padat karya dan tidak banyak memerlukan modal besar guna menambah nilai terhadap bahan mentah dan umumnya berada dekat dengan lokasi produksi bahan mentah.  Dengan karakteristik  tersebut pengembangan sektor Agrobisnis sangat sesuai untuk dilakukan oleh petani dengan kemampuan lahan dan modal kecil. Dengan dikembangkannya usaha agroindustri di wilayah pertanian, diharapkan mampu menyerap banyaknya tenaga kerja dan mampu meningkatkan nilai produk pertanian,  sehingga petani tidak hanya mengandalkan hidup pada satu sektor pertanian saja.  
Pengertian Agroindustri
  1. Agroindustri berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya, atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha pertanian. (Anonim, 2009).
  2. Agroindustri adalah industri yang memberi nilai tambah pada produk pertanian dalam arti luas termasuk hasil laut, hasil hutan, peternakan dan perikanan. (Handito Hadi Joewono).
  3. Dilihat dari sistem agrobisnis, agroindustri merupakan bagian (subsistem) agrobisnis yang memproses dan mentranformasikan bahan-bahan hasil pertanian (bahan makanan, kayu dan serat) menjadi barang-barang setengah jadi yang langsung dapat dikonsumsi, dan barang atau bahan hasil produksi industri yang digunakan dalam proses produksi (seperti traktor, pupuk, pestisida, mesin pertanian). Agroindustri merupakan subsektor yang luas yang meliputi industri hulu sektor pertanian sampai dengan industri hilir. (Anonim, 2009).
  4. Dalam kerangka pembangunan pertanian, agroindustri merupakan penggerak utama perkembangan sektor pertanian. Untuk mewujudkan sektor pertanian yang tangguh, maju, dan efisien, sehingga mampu menjadi leading sector dalam pembangunan nasional, harus ditunjang melalui pengembangan agroindustri yang tangguh, maju serta efisien pula. Agroindustri memiliki kelebihan dibandingkan dengan industri lainnya, antara lain memiliki keterkaitan yang kuat baik dengan industri hulunya maupun ke industri hilir,  menggunakan sumberdaya alam yang ada dan dapat diperbaharui, mampu memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif baik di pasar internasional maupun domestik, dapat menampung tenaga kerja dalam jumlah besar, produk agroindustri umumnya bersifat cukup elastis, sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdampak  semakin luasnya pasar, khususnya pasar domestik. (Suprapto, 2007).
Tujuan Agroindustri
Tujuan dari Agroindustri tidak terlepas dengan peranan dari agroindustri tu sendiri, yaitu :
  1. Menciptakan nilai tambah hasil pertanian. Agroindustri melakukan transformasi bahan mentah pertanian ke produk setengah jadi atau menjadi produk akhir untuk konsumen, sehingga menjadikan hasil pertanian memiliki nilai tambah dan mempunyai harga yang lebih tinggi.  Di sisi lain, Agroindustri menimbulkan peningkatan permintaan jumlah dan ragam produk pertanian, karena menciptakan diversifikasi produk yang mampu meningkatkan daya saing produk hasil pertanian.
  2. Meningkatkan pendapatan masyarakat. Adanya nilai tambah hasil pertanian dan permintaan produk yang beragam tentunya diharapkan berpengaruh positif pada kenaikan pendapatan dari masyarakat.
  3. Menciptakan lapangan pekerjaan, yaitu dengan menarik tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri hasil pertanian.
  4. Meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil agroindustri.
  5. Menarik pembangunan sektor pertanian. Agroindustri mempunyai hubungan yang kuat terhadap industri hulu dan industri hilirnya. Hubungan tersebut bisa dilihat dari backward linkage dan   forward linkage agroindustry terhadap sektor-sektor lainnya. Adanya peningkatan output sektor agroindustri akan mendorong peningkatan output sektor pertanian sebagai industri hulu. Peningkatan output sektor agroindustri akan meningkatkan permintaan input sektor itu sendiri. Input tersebut ada yang berasal dari sektor itu sendiri, dan ada pula yang berasal dari sektor pertanian.
Pengembangan Agroindustri dalam mewujudkan Masyarakat Petani yang sejahtera 
 
Pada waktu krisis ekonomi tahun 1998, industri yang mengandalkan teknologi tinggi, dengan investasi padat modal, serta peralatan dan bahan baku impor sangat rapuh.  Satu demi satu industri tersebut gulung tikar sehingga menimbulkan pengangguran tinggi serta pertumbuhan ekonomi yang negatif. Keadaan sebaliknya terjadi pada industri yang berbasis sumber daya alam, investasi padat karya, tidak tergantung impor dan hutang luar negeri.  Industri ini masih hidup dan berkembang dan menghasilkan pertumbuhan yang positif ke depannya hingga sekarang.  Sektor tersebut adalah agroindustri.  
Dilihat dari berbagai aspek, seperti  potensi sumber daya hayati  yang besar dan beragam, arah kebijakan pembangunan nasional pada sektor pertanian dan industri yang berbasis pertanian, potensi pasar domestik dan pasar internasional,  serta  peta kompetisi dunia, Indonesia memiliki prospek untuk mengembangkan sistem agroindustri.
 
Dilihat  dari  karakteristik dan tujuannya, Agroindusti mempunyai peranan yang sangat penting dan memberikan  harapan besar dalam meningkatkan kehidupan masyarakat. Untuk itu, perlu segera dilakukan upaya untuk mengoptimalkan pengembangan agroindustri sebagai salah satu solusi untuk  peningkatan  kesejahteraan masyarakat di wilayah pertanian, yaitu sebagai berikut :
  1. Optimalisasi Pembangunan Agroindustri di Pedesaan. Pada sektor pertanian, kemiskinan sebagian besar dialami di daerah pedesaan. Dengan dibangunnya agroindustri di wilayah pedesaan akan mampu menciptakan lapangan kerja baru, sehingga bisa mengurangi tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.   Melalui pembangunan agroindustri di wilayah pedesaan, diharapkan akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakatnya. Masyarakat desa, baik yang bekerja di sektor pertanian maupun di sektor agroindustri mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga dapat pula mengurangi urbanisasi  dari desa ke kota yang menciptakan masalah baru yang lebih kompleks lagi.  Untuk itu perumusan perencanaan pembangunan  perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan ketersediaan teknologi tepat guna,  sehingga alokasi sumber daya dan dana yang terbatas, dapat menghasilkan output yang optimal, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
  2. Pembangunan Agroindustri yang berbasis keunggulan lokalAgroindustri memiliki spektrum  kegiatan dan pasar yang luas. Pembangunan agroindustri akan  lebih efisien  jika dilakukan   sesuai dengan produk unggul pertanian  yang ada di wilayah tersebut.  Produk yang dihasilkan akan bernilai lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah.  Produk Agroindustri dapat mencakup berbagai macam, antara lain alat dan mesin pertanian, sarana produksi pertanian, bahan-bahan yang diperlukan oleh sektor pertanian dan industri penanganan pasca panen, industri pengolahan makanan dan minuman, industri biofarma, industri bioenergi,  industri pengolahan hasil  hingga industri agrowisata. Sebagai contoh, beberapa acuan prospek agroindusti yang mempunyai potensi untuk dikembangkan di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah, antara lain : a) Tanaman Pangan : holtikultura terutama buah-buahan, kedelai, ubi, jagung. b) Perkebunan : semua komoditas perkebunan adalah komoditas yang harus  berwawasan  agrobisnis,   seperti kelapa sawit, karet, kelapa, lada, serat pisang, tanaman obat-obatan. Sebagai contoh industri barang-barang dari karet, produk turunan CPO (detergen, sabun, palmoil). c) Perikanan : budi daya ikan laut dan perairan (ikan, udang).
  3. Pengelolaan usaha Agroindustri secara terpadu dan berkelanjutan. Pengelolaan Agroindustri akan lebih baik dilakukan secara terpadu, melalui kelompok-kelompok tani atau melalui berbagai kelompok UKM/UMKM, sehingga bisa meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Terdapat berbagai contoh yang menunjukkan ada perusahaan agroindustri  yang awalnya berkembang pesat, namun akhirnya tutup karena berbagai alasan, di antaranya karena kesalahan manajemen, kekurangan bahan baku atau kurangnya konsumen.  Untuk itu, Pembangunan agroindustri harus mendasasarkan diri pada konsep berkelanjutan. Agroindustri dibangun dan dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek manajemen dan konservasi sumber daya alam. Teknologi yang digunakan serta kelembagaan yang terlibat diarahkan untuk memenuhi kepentingan manusia masa sekarang maupun masa yang akan datang.
  4. Dukungan pemerintah yang konsisten terhadap kebijakan agrobisnis. Adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah dalam berbagai kebijakan, seperti bantuan subsidi, pembinaan dan pengawasan terkait terhadap pelaksanaan agrobisnis skala kecil, rumah tangga, maupun menengah, tentunya diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan pembangunan agroindustri.
  5. Pengembangan ekonomi digital. Pemanfaatan kemajuan teknologi digital dan Internet membuka peluang pertukaran data, meningkatkan penjualan dan membuka pemasaran produk agrobisnis secara luas dan tak terbatas.
Dengan beberapa upaya di atas diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal bagi kemajuan sektor pertanian dan sektor agroindustri  itu sendiri.  Efek multiplier yang ditimbulkan agroindustri dari hulu sampai pada industri  hilir, pada gilirannya  diharapkan berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pertanian.  Pembangunan pertanian yang tangguh ditunjang oleh pengembangan agroindustri yang tangguh akan menghasilkan percepatan dalam pembangunan nasional dalam mewujudkan masyarakat pertanian yang sejahtera. 
Share on:

Tinggalkan komentar