Drs. Mukhtarudin

Search
Close this search box.

Anggota Komisi VII DPR Dorong Menperin Agus Perkuat Hilirisasi Industri Manufaktur RI

Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin meminta pemerintah tetap fokus memacu industrialisasi di dalam negeri karena membawa multiplier effect atau dampak ganda yang positif bagi perekonomian nasional.

Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin meminta pemerintah tetap fokus memacu industrialisasi di dalam negeri karena membawa multiplier effect atau dampak ganda yang positif bagi perekonomian nasional.

Mukhtarudin menyampaikan hal itu menanggapi survei yang dirilis S&P global di mana capaian Purchasing Manager Index atau PMI Manufaktur Indonesia pada Maret tahun 2023 ini berada di posisi 51,9. Index tersebut naik dibanding bulan sebelumnya yang menempati level 51,2.

“Kita apresiasi Index PMI, karena hilirisasi industri manufaktur merupakan salah satu kebijakan strategis yang harus terus dijalankan oleh Kementerian Perindustrian. Sebab dengan dengan hilirisasi akan memberikan kemajuan terhadap perekonomian nasional kita,” kata Mukhtarudin, Senin 3 April 2023.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnha mengatakan fase ekspansi di bulan Maret jadi ikut memperpanjang periode perbaikan kondisi industri manufaktur selama 19 bulan berturut-turut. 

“Apalagi, laju pertumbuhan PMI di bulan Maret merupakan yang tercepat sejak bulan September lalu,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (3/4).

Menperin mengemukakan, tingkat ekspansi PMI manufaktur Indonesia tersebut sejalan dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang telah dilansir sebelumnya oleh Kementerian Perindustrian. IKI Maret 2023 juga menunjukkan nilai ekspansi sebesar 51,87.

“PMI manufaktur dan IKI pada Maret 2023 sama-sama menunjukkan bahwa posisi ekspansi didukung oleh permintaan baru dari domestik yang meningkat. Kami optimis, dengan akselerasi pada realisasi belanja Produk Dalam Negeri, permintaan baru akan semakin meningkat di periode selanjutnya,” paparnya.

Peningkatan permintaan domestik mendorong meningkatnya output dan tenaga kerja. Diitambah lagi, kinerja vendor meningkat dan dan transportasi semakin baik sehingga persediaan bahan baku meningkat dan hambatan produksi berkurang. 

“Hal ini memacu kinerja industri untuk menyelesaikan pesanan lebih cepat,” jelas Menperin.

Meskipun biaya input masih meningkat, industri tidak lagi meneruskan kenaikan tersebut ke harga produknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekspansi PMI tidak lepas dari peningkatan kinerja internal perusahaan dan upaya pemerintah dalam menjaga pasar dalam negeri dan memperbaiki iklim usaha industri.

Sebagai tambahan, hambatan pasokan di sektor manufaktur Indonesia semakin berkurang pada bulan Maret, sehingga waktu pemenuhan pesanan semakin pendek. Hal ini didukung kinerja pemasok dan transportasi yang lebih baik.

Karenanya, Kemenperin fokus untuk memacu produktivitas di sektor industri sekaligus memperkuat pasar dalam negeri, dengan mengoptimalkan penggunaan produk lokal dan substitusi impor. 

“Upaya ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo pada gelaran Business Matching Produk Dalam Negeri beberapa waktu lalu, bahwa pembelian produk lokal dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung daya saing industri di tanah air,” pungkas Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita.

Jingyi Pan selaku Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence menyampaikan, tekanan pasokan menjadi lebih mudah diatur karena waktu pengiriman dari pemasok lebih cepat sementara inflasi harga input masih di bawah rata-rata 12 bulan, mewujudkan efektivitas tingkat kenaikan sebelumnya.

Sementara itu, sentimen bisnis bertahan positif di antara produsen di Indonesia pada akhir triwulan pertama, serta tingkat kepercayaan diri dalam bisnis yang membaik.

PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2023 kembali mampu melewati PMI pusat manufaktur terbesar dunia yaitu, China (50,0) dan kembali lebih tinggi dari PMI ASEAN (51,0), Malaysia (48,8), Vietnam (47,7), Taiwan (48,6), Jepang (49,2), Korea Selatan (47,6), Inggris (48,0), Amerika Serikat (49,3), dan Jerman (44,4).